Jumat, 05 November 2010

kukuruyuk

Kukuruyuk, kukuruyuk, bunyi kokok ayam membangunkanku dari tidur malam ini, aku lihat jam ternyata sudah jam 06.00. Cepat cepat aku ambil air wudhu dan sholat subuh walaupun sudah agak telat. Terdengar suara ibu memanggil dari dapur,
“Nak, cepatlah kesini”,
“Ia mak”,
“Bantu mamak, potongin daun ubi ini”,
“Ia , nanti setelah habis sholat ya mak”,
Setelah selesai sholat aku langsung bantu mama didapur, setelah masakan siap aku makan dan kira-kira sampai jam 07.30. Langsung aku ganti baju kebun dan pergi menyusul bapak dikebun serta membawakan bontot (makanan yang dibawa dikebun) untuk beliau. Jalan menuju kebun ku lumayan jauh kurang ± 1,5 km, dan akupun kekebun dengan jalan kaki soalnya jalanan becek karena masih musim hujan. Disana sini terdapat banyak genangan air, nampak terlihat jelas warna air gambut kecoklatan dan penuh kotoran. Perjalanan ke kebun memakan waktu setengah jam, ditengah perjalanan tidak kuduga aku bertemu dengan seekor babi, warna nya hitam kecoklatan badan nya belang belang dengan corak kebelakang, besar nya kira-kira sebesar kambing dengan tinggi 1 meter, babi itu orang-orang bilang babi tunggal (babi yang hidup sendirian), babi tersebut berbeda dengan babi  yang hidup berkelompok karena babi tersebut tidak liar, bahkan bisa melawan kita yang mendekat.
“Weeeeeek” terdengar suara babi tersebut kaget
Aku pun yang berjalan sendirian terkejut, tak sadar bontot ku hampir jatuh, dan kakiku terperosok dilumpur gambut.
Kami sama-sama terkejut, matanya yang tajam memandang mata ku yang terbelalak ketakutan, betapa takut nya aku karena babi tersebut langsung mendekatiku, matanya yang tajam menatapku tiada berkedip, kepalanya ditengadahkan keatas, tidak banyak yang bisa kulakukan , aku hanya mundur selangkah dan menarik nafas panjang sambil menahan rasa takut yang terus menyelimuti diri. Selang beberapa detik untungnya babi tersebut langsung mundur dan pergi, tapi dia tidak langsung pergi melainkan memandangku terus menerus dari kejauhan sambil mengawasi diri ini.
Setelah berjalan melewati beberapa kanal ( orang kampung bilang nya parit) dan kebun tetangga, sampailah aku dikebun, disana sudah ada papa yang bekerja , dia berangkat dari jam 06.00.
“Mana ibu mu rur”, kata bapak padaku
“Mama masih dirumah pa, nyuci baju dulu, ini makan pagi nya , ada kerupuknya( kerupuk adalah makanan kesukaan papa)”,jawabku sambil nafas setengah terengah-engah
“Ia , bawa sini”, kata bapak membalas singkat.
Dengan secepat kilat bapak langsung membuka bontot dan langsung sarapan dengan lahapnya.
Kerja bapak dikebun sangat berat, betapa tidak seharusnya badan yang sudah pensiun itu tapi masih saja dipaksakan juga untuk kerja berat, kerja sebagai tukang kebun walaupun dikebun sendiri tapi bagi ku itu sangat berat, apalagi kalo masa manen kelapa berangkat jam 06.00 bisa pulang sampai jam 17.00. Memanen kelapa itu sangat rumit pertama-tama kelapa yang sudah kecoklatan ataupun tua diegrek/ dikait, kemudian dikumpulkan dibarisan kelapa, setelah itu kelapa disulak / dikupas kemudian dikumpulkan di pinggir kanal memakai ambung( tas dari ritan bisa berisi 80-120 butir kelapa), kemudian ditransport.
Setelah istirahat sebentar maka akupun segera mengupas kelapa, tidak terasa tangan ku sangat sakit karena belum terbiasa, satu dua kali aku pun istirahat untuk minum sebentar,
“Pak susah kali ya kelapa ini”,
“Ia, makanya kalau ngupas tu diliat dibagian sisinya yang mana yang bagus”,jawab ayah
“Bapak sudah dapat berapa tumpuk kelapa”
“Baru tiga tumpuk(± 300 buah) nak”
Dengan susah payah aku selesaikan pekerjaan kebun ini, sungguh terasa capek padahal aku baru saja dapat satu tumpuk. Mengupas kelapa menghabiskan banyak tenaga, tidak hanya itu kerjanya pun dibawah terik matahari, jadi kulit berubah hitam legam dan sangat panas, dan akhirnya aku putuskan untuk buka baju, aku relakan kulit berubah hitam legam.
Jam 10.35 ibu sampai dikebun. Sejurus kemudian ibu langsung menuju ketumpukan kelapa dan langsung menyulak. Kami bertiga sama-sama kerja, kami bekerja sangat serius, sekitar satu jam kemudian kami istirahat sebentar, kami bertiga makan cemilan. Hari ini hari jum’at, ketika jam 11.00 siang papa langsung pulang kerumah sementara itu cuaca sangat mendung, awan sudah menghitam, bergumpal-gumpal dilangit berkejar-kejaran dengan angin.
“Mau pulang gak rur?”, tanya papa sambil berlalu dari hadapan ku
“Nak, gak usah pulang ya”, kata mama
“Ia mak”,
“Kita sama-sama ambil satu tumpuk saja, biar cepat selesai”,
Tak terasa awan semakin hitam, dan gerimis pun mulai turun kebumi. Pelan tapi pasti, hujan mulai deras, dan petir pun mulai menyambar.
“Mak dilanjutin kerjanya gak?”, tanya ku pada mama
“Ia, dilanjutin ja”,
Satu persatu kelapa mulai terkupas
“Mak hujannya deras banget ni, petir nya banyak banget lagi”,
“Gak papa nak”
Duar, duar, duar......
Lama – lama semakin banyak petir yang menyambar, langit semakin menghitam, hujan angin pun mulai mendera. Bila memandang langit dari timur ke barat, utara selatan semua menghitam seakan-akan langit akan runtuh. Kamipun sangat ketakutan. Akhirnya kami putuskan untuk pulang kerumah saja. Kira-kira sudah jam 13.00 kami berdua sampai dirumah dan ternyata dirumah pun ada bapak karena bapak sudah pulang sholat jum’at karena hujan sangat lebat dikampung akhirnya bapak memakai payung. Aku sangat menyesal tidak solat jumat karena mungkin ini jumat terakhir dikampung, setelah libur 2 bulan dari kuliahku di kota, gara-gara ingin cepat selesai memanen kelapa aku jadi lupa segalanya, mungkin ini peringatan dari yang kuasa agar tidak melupakannya walaupun kitadalam kesusahan.
“Udah pulang rur”, sahut papa sambil makan kerupuk ketika mendengar suara kami berdua pulang
“Ia”
“Makanya tadi mending solat ja”
“Maaf” jawabku sambil malu-malu  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar anda akan selalu kami respon