***
Jam telah menunjukkan 18.00, aku baru saja pulang dari bermain bersama teman-teman dilapangan voli yang sudah kosong itu, kami bermain layang-layang saat itu karena sedang musimnya, kadang kala kami bermain petak umpet, lempar galah, kasti, gasing dan juga yang lainnya.
Terdengar suara mama memanggilku dari kejauhan, kebetulan rumahku dekat dengan tempat itu, dalam hatiku pun bertanya kenapa????, padahal semua pekerjaan rumah telah kuselesaikan, rmulai dari mencuci piring, menyapu rumah, memasak air bahkan juga memberi makan bebek, memberi makan bebek agak sedikit rumit mulai dari merajang ubi hingga halus, sampai mencacah bekicot.
“Ton, ton, pulang cepat!”
“Ia ma”
“Kamu mau bakar rumah ya?”
“Gak ma”
“Terus apa-apaan ini!!”
“Emang ada apa ma”
“Masak ada arang dilantai”
“Yang bener ma, sahut ku dari kejauhan”
“Jangan ceroboh ton, rumah kita ini dari kayu, sekali terbakar lantai nya langsung habis semuanya, coba kau lihat itu punya gino dan mbak ana, semua sudah ludas“.
Terlihat jelas satu batang arang menyerupai batang kayu rambutan yang ku pakai untuk memasak air ternyata tadi apinya masih hidup dan aku lupa mematikannya.
“Kamu lupa ya nak, kan mama bilang kalau sudah selesai itu kayu nya itu langsung dibuang keluar, terus tungkunya disiram dengan air !!”, nampakmata mama melotot dan terlihat kesal.
***
Kata kata mama sore itu terus teringat dikepalaku, sampai-sampai suatu waktu aku pun melihat lembaran kelabu ku beberapa tahun yang lalu, ketika itu baru berusia 4 tahhun,
Tambah lagi papa yang membersihkan batang kayu yang sudah menjadi arang tersebut.
Kalau kuingat-ingat peristiwa itu sama seperti 5 tahun yang lalu , ketika itu umurku baru 4 tahun, tepatnya ditransito bantul (transito adalh tempat pendidikan bagi para tramsmigran), dipagi hari itu kira-kira jam 10.00 , aku meminta kepada papa ku untuk dibelikan makanan , karena tidak dituruti akhirnya akupun tiba tiba langsung menghidupkan korek dan langsung mengancam untuk membakar. Sebaiknya peristiwa seperti itu tak boleh terjadi kembali lagi. Aku tidak ingat entah apa yang membuat ku untuk nekat untuk mengancam membakar, padahal apabila aku bakar semua komplek itu bisa habis dilalap sijago merah. Waktu terus berlalu sampai tak ku sadari kini usiaku sudah 20 tahun, tak pernah terbayangkan olehku bagaimana rasanya tidak punya rumah, apa rasanya bila barang yang kita miliki hilang dengan begitu cepat, seperti keadaan temenku panggil aja dia agus, anak yatim yang ditinggal oleh bapaknya karena ibu nya tidak mau merawat akhirnya nenek nya dan bibinya mengambil dia (merawat nya). Suatu ketika disaat kami sedang asyik-asyiknya belajar IPA dibangku SD, tiba-tiba saja dari luar sana terlihat banyak kepulan asap mengudara dengan begitu kentalnya mungkin warnanya seperti wedus gembel di merapi. Semua siswa SD panik, bapak guru, penjaga kantin termasuk siswa Sd kelas 5 dan wali kelasnya. Diluar sana terdengar teriakan ibu-ibu agar mengumpulkan orang-orang karena tetangga nya ada yang terbakar. Sontak kami pun terus keluar dan menuju keselatan, rumah demi rumah pun kami lewati dengan lari sekencang-kencangmya. Alangkah terkejut nya agus ketika melihat rumahnya terbakar , dengan menangis sejadi-jadiny, kami pun terus menahannya agar tidak tejadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Lain hal nya denga nenek agus, ketika itu dia masih dikebun , karena mendengar kabar dari orang-orang maka dia langsung pulang dan ketika baru sampai jembatan sang kakek pingsan karena tidak kuat melihat rumah nya terbakar dari kejauhan, bahkan ada yang sangat disesali dari peristiwa itu karena wayang kesayangannya ikut terbakar. Usut punya usut ketika itu saudara agus yang masih dirumah sedang memasak air, karena dikira udah mati apinya maka ditinggal rumah tersebut, alangkah terkejut nya ketika dia melihat rumah nya terbakar.
Tolong-tolong !!!!!!;
Aku terkejut dari lamunan ku disore itu karena ada tetangga kami yang rumah nya terbakar, seluruh harta nya habis , tidak ada yang tersisa, bahkan rumah tetangga pun hampir ludes juga, untung nya dengan semangat gotong royong yang dimiliki warga akhirnya rumah itu tidak ikut terbakar juga walaupun akhirnya rumah pertama itu tidak berhasil diselamatkan. Karena kasihan tidak punya rumah bapak kepala desa memberikan rumah untuk orang tersebut.
***
Ketika aku pulang kekampung dari kota karena sekolah sering terdengar berita kebakaran, tidak lain penyebabnya adalah tabung LPG, sepertinya setiap hari semakin banyak saja yang terbakar rumanya , akupun tak tahu entah kapan rumah ku akan terbakar,
Jika aku ingat-ingat peristiwa itu aku pun sempat berpikir entah kapan rumah ku mendapat giliran untuk terbakar, sepertinya sudah menjadi tradisi di kampung kami. Setiap tahun nya pasti ada saja rumah terbakar, mulai dari kayu bakar, minyak tanah sampai Lpg seperti sekarang ini sudah mengukir di kampung ini. Semua yang kita miliki ini tidak kekal, pasti akan kembali pada yang kuasa, sebagai makhluk nya kita hanya berusaha untuk mencegah saja.
Tlililit,,,,,,,tlililililt,,,,,
Suara nada pesan berbunyi agak lama.
Seperti biasa, aku pun tidak langsung membuka, aku biarkan sampai kira-kira 5 menit, terlebih kalau dilihat dari layar hp pesan tersebut bukan dari nomor yang tersimpan di hp ku. Setelah ku buka sms itu, alangkah terkejut nya aku karena sms itu berbunyi seperti ini:
“Ton, Cepet pulang ke kost-an, komplek terbakar”,
Dari randi (temen sekamar u)
Dag-dig-dug, perasaan ku bercampur aduk, tak tahu lagi apa nasibku yang akan datang, kemudian dengan sisa pulsa yang kumiliki aku telpon randi
“Kapan kost-an kebakar?”
“Baru saja satu jam”
“Kenapa bisa kebakar ?”
“Aku juga gak tahu, tapi kata anak kost yang laen dari rumah tetangga, waktu dia nyetrika, tiba-tiba langsung konslet”.
“Terus udah dipadamkan belum?”
“Udah, setengah jam yang lalu pemadam kebakaran bisa matiin api, tapi semua rumah kost-an sudah ludes”.
“Barang-barang mu gemana?”
“Habis juga, sama kayak punya lo, kapanmau datang ke sini?”
“Besok ja ya , lagiyan akupun belum persiapkan oleh-oleh, kamu urus dulu ya semua barang kita yang masih bisa dipakai”
“Siiiip, bawakan aku keripik pisang ya”
“Ok, deh”
Setelah kutelpon randi akupun langsung bilang sama mama, dan mempersiapkan segalanya untuk berangkat besok. Jam 06.00 kau sudah berangkat dan mencari mobil yang mau kekota.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
komentar anda akan selalu kami respon